Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Menstimulasi 8 Jenis Kecerdasan

Menilai kecerdasan anak tidak bisa hanya berdasarkan skor standar semata, seperti tes IQ, hal itu amatlah terbatas. Namun, perlu mengukur dari definisi kecerdasan yang berbeda.

Dr. Howard Gardner, Profesor bidang pendidikan di Harvard University, Amerika Serikat mengemukakan, definisi kecerdasan yang berbeda untuk mengukur potensi manusia secara lebih luas, baik pada anak maupun orang dewasa. Ia membagi 8 jenis kecerdasan, dan dikenal sebagai Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences). Dan kita semua punya 8 area kecerdasan itu dalam taraf berbeda.

Menurut Dr. Halit Hulusi, Senior Educational Psychologist di Birmingham Educational Psychology Service, Inggris, dengan delapan area kecerdasan ini, berarti beragam cara dapat dilakukan orangtua untuk mengembangkan kecerdasan anak-anaknya. Namun, tentu saja tidak setiap anak bisa menjadi brilyan di semua bidang, tetapi Anda dapat membantunya mengoptimalkan semua potensi di setiap area kecerdasannya.

Kecerdasan Linguistik (Word Smart). Kecerdasan yang melibatkan kemampuan berbahasa. Seorang anak dengan kecerdasan linguistik menonjol umumnya senang mendengarkan cerita, senang bercerita, senang bermain peran, dan permainan yang berhubungan dengan kata-kata.
Stimulasi: Ajak anak main tebak-tebakan, misalnya tentang ciri-ciri binatang. “Ada binatang, suaranya guk guk, warna bulunya putih. Kamu sayang sekali padanya. Binatang apa itu, ya?”
Anak bisa menjadi penulis, wartawan, pengacara, penyiar radio, pembawa acara atau ahli di bidang pemasaran.
Coba! Duduk berhadapan dengan anak, lalu berceritalah tentang apa yang telah dilakukannya hari ini bergantian dengan Anda.

Kecerdasan Logika-Matematika (Number Smart). Kecerdasan yang melibatkan kemampuan menganalisis masalah secara logis, menemukan atau menciptakan rumus-rumus atau pola matematika, dan menyelidiki sesuatu secara ilmiah. Anak-anak dengan kecerdasan logika-matematika yang tinggi memperlihatkan minat besar pada kegiatan eksplorasi, cerewet bertanya tentang berbagai fenomena, dan menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaannya.
Stimulasi: Mulailah berhitung. Manfaatkan jari tangan, orang yang sedang berbaris, atau apa saja. Arahkan perhatian anak pada angka dan pola yang ada di sekitarnya. Gunakan manik-manik berwarna untuk membuat pola sederhana yang dapat ditiru si kecil. Misalnya, susun biru-merah-kuning-hijau, lalu biarkan anak melanjutkan dengan pola yang sama.
Anak bisa menjadi ilmuwan, dokter atau ekonom.
Coba! Buat semacam gerai toko dengan memanfaatkan barang-barang di rumah, termasuk mainannya. Ajak si kecil bermain peran sebagai pedagang dan pembeli.

Kecerdasan Visual-Spasial (Picture Smart). Kecerdasan yang melibatkan kepekaan mengobservasi dan kemampuan berpikir dalam gambar. Kecerdasan ini memungkinkan anak membayangkan bentuk-bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah. Biasanya, si kecil menyukai kegiatan bermain puzzle, menggambar, bermain balok, mencari jalan paling tepat, serta menghabiskan waktu luang untuk melamun.
Stimulasi: Biarkan anak bereksplorasi saat ia menggambar. Gunakan kapur, plastisin, cat air atau krayon dengan berbagai alat bantu seperti sikat, gunting, tangan dan kaki, bahkan sayuran untuk menggambar atau mencetak gambar. Ajak si kecil berdiskusi tentang hasil karyanya, termasuk tekstur, warna dan ukurannya.
Anak bisa menjadi arsitek, seniman, ahli mesin, animator, desain komputer grafis, atau fotografer.
Coba! Ajak anak memilih sebuah gambar, misalnya dari majalah lama, Gunting secara acak, lalu minta dia menyusunnya sehingga menjadi gambar yang utuh kembali.

Kecerdasan Musikal (Music Smart). Kecerdasan yang melibatkan kemampuan berpikir atau mencerna musik, menggunakan musik sebagai sarana berkomunikasi, menginterpretasikan bentuk dan ide musikal, serta menciptakan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Anak yang memiliki kecerdasan ini sensitif terhadap suara, struktur musik dan ritme. Ia kemungkinan bagus saat menyanyi atau memainkan instrumen musik.
Stimulasi: Bangkitkan minat anak untuk mengenali dan merespon aneka suara yang dia dengar sehari-hari, misalnya suara bel pintu atau suara telepon. Anda juga bisa memperdengarkan suatu irama tepuk tangan, lalu lihat apakah si kecil dapat mengulang irama tepukan Anda tadi? Atau, dia berminat membuat irama tepuk tangan untuk Anda tiru.
Anak bisa menjadi komposer, penata musik, musisi, atau guru musik.
Coba! Buat alat musik sederhana dengan benda-benda yang ada di rumah. Misalnya ember plastik dan sendok kayu sebagai drum dan alat pemukulnya. Kurang menantang? Buat seperangkat alat musik dan mainkan bagai sebuah orkes simfoni.

Kecerdasan Gerak Tubuh (Body Smart). Disebut juga kecerdasan kinestetik, melibatkan kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak. Anak-anak dengan kecerdasan gerak tubuh di atas rata-rata, senang bergerak dan menyentuh sesuatu dengan tangkas dan cepat. Keterampilan motorik halus dan kasarnya baik. Bisa dibilang, anak mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya.
Stimulasi: Sikap menghargai dan memanfaatkan tubuh yang baik, terbentuk melalui pengalaman yang diperoleh sejak dini. Beri anak kesempatan untuk mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan tubuhnya dengan mengajaknya ke tempat-tempat yang aman untuk berksplorasi, baik dengan berjalan, berlari, berayun, memanjat, melompat, merangkak, maupun berenang.
Anak bisa menjadi penari, atlet, koreografer, aktor/aktris, guru olahraga, pelatih drama, mekanik, atau ahli bedah.
Coba! Perdengarkan musik favorit anak, lalu menarilah bersamanya sambil bertepuk tangan, mengangkat atau menghentakkan kaki dan berputar.

Kecerdasan Interpersonal (People Smart). Kecerdasan yang melibatkan kemampuan memahami dan berkomunikasi dengan orang lain, serta melihat perbedaan orang lain dari segi suasana hati, temperamen dan motivasi. Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol, cenderung lebih baik dan mudah menjalin interaksi sosial, serta sangat sensitif terhadap perasaan orang lain. Selain itu, dia juga berpeluang menjadi pemimpin di kelompoknya.
Stimulasi: Bantu anak mengembangkan jenis kecerdasan ini, misalnya dengan berbicara tentang perasaan Anda atau orang lain. Katakan padanya, “Nenek sedang sedih, Nak. Jadi, jangan dulu mengajaknya bermain boneka ya.”
Anak bisa menjadi pengajar, pekerja sosial, konselor, politisi, atau mediator.
Coba! Bacakan buku cerita favorit anak. Tanyakan padanya apa yang dirasakan oleh karakter dalam cerita dan mengapa si tokoh merasa demikian.

Kecerdasan Intrapersonal (Self Smart). Kecerdasan yang melibatkan kemampuan memahami diri sendiri, mengetahui siapa dirinya, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana reaksi diri terhadap suatu situasi, dan memahami situasi seperti apa yang sebaiknya dihindari. Beberapa ciri anak dengan kecerdasan intrapersonal di atas rata-rata adalah tahu apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan dalam lingkungan sosial, dan tahu siapa orang yang tepat untuk dimintai bantuan.
Stimulasi: Anak Anda butuh bantuan untuk memahami apa yang dia rasakan. Coba kaitkan tingkah lakunya yang tampak oleh Anda dengan kejadian yang mungkin menjadi pemicunya. Misalnya, “Kamu hentak-hentakkan kakimu karena kamu marah, ya. Apakah ini karena Toni mengambil mobil-mobilanmu?”
Anak bisa menjadi wiraswasta atau filsuf.
Coba! Gambar sesuatu yang bisa mewakili apa yang Anda rasakan. Minta pula si kecil melakukan hal yang sama. Bandingkan dan bahas gambar-gambar tersebut.

Kecerdasan Naturalis (Nature Smart). Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan merasakan bentuk-bentuk dan menghubungkan elemen-elemen yang ada di alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis yang menonjol memiliki ketertarikan yang besar terhadap lingkungan alam sekitarnya, termasuk binatang. Mereka tidak takut atau jijik untuk memegangnya, sejak usia dini.
Stimulasi: Perlihatkan pada anak proses tumbuh kembang makhluk hidup, misalnya kacang hijau menjadi tauge, atau ulat menjadi kupu-kupu. Lebih baik lagi bila Anda bisa memberinya suatu lahan atau pot agar si kecil bisa menanam dan memelihara sendiri satu tanaman dari benihnya, serta tahu apa yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.
Anak bisa menjadi ilmuwan atau ahli konservasi alam.
Coba! Ajak balita berjalan-jalan di taman kota, kebun raya, pantai atau tempat lain yang memiliki aneka ragam makhluk hidup. Beritahu nama-namanya dan ajak anak mengenalinya lebih jauh.

BERMAIN SEMAKIN PINTAR

Selain untuk kesenangan, bermain sekaligus sarana belajar si kecil.
oleh: Immanuella F. Rachmani

Mainan tak harus dibeli. Benda-benda di sekitar si kecil bisa jadi mainannya. Apapun mainannya, peran orang tua sangat penting untuk menemani si kecil bermain.

Usia 6-9 Bulan

Ekspresi bayi semakin tampak dan gerakannya kian lincah. Gerak refleks diganti gerak yang bretujuan. Coba lihat, mulutnya sering melakukan gerakan seperti mengunyah pertanda ia siap makan makanan padat. Memasukkan benda ke dalam mulut adalah kebiasaannya sekarang. Si kecil pun mencoba makan sendiri meski belum mahir.
Memasuki usia 9 bulan, waktunya anak diperkenalkan minum menggunakan cangkir. Jam tidurnya yang masih panjang, 14 jam sehari, diselingi aktivitas makan, mandi dan bermain. Ehmm...bermain! Tak cuma asyii, si kecil mengasah ketrampilannya dengan cara menyenangkan.

Permainan dan mainan yang tepat:
  • Yang membuat bayi bergerak, karena ia senang bergerak untuk melatih ketrampilan motorik kasar: duduk, berdiri, merangkak, dan berguling.
  • Meraih benda untuk diamati, digoyang, dicicipi atau digigit.
  • Permainan Ciluk Ba sangat disukai. Si kecil belajar obyek permanen: sesuatu yang tidak tampak bukan berarti hilang
  • Ayun-ayun di kaki.
  • Bermain kejar-kejaran bersama si kecil sangat menyenangkannya. Merangkaklah di belakang bayi yang sedang merangkak seolah Anda mengejarnya.
  • Mendaki gunung bantal akan membuatnya aktif bergerak,keseimbangannya kian terasah.

Tips sukses:
  1. Bila ingin memberikan mainan baru, singkirkan mainan 'lama' dari dekat si kecil, karena ia senang bermain dengan satu mainan. Beberapa mainan sekaligus di hadapannya bisa membuat si kecil frustasi.
  2. Izinkan anak memainkan perkakas aman. Misalnya, sendok plastik, piring makan atau cangkir minum si kecil.
  3. Biarkan anak memainkan tangan, kaki, dan wajah Anda. Sebutkan nama-nama bagian tubuh yang disentuh si kecil agar ia tahu namanya.
  4. Jika ingin membacakan buku, pilih buku dengan gambar besar dan berwarna cerah.

Usia 9-12 bulan

Mulut mungil si kecil mulai mencoba bicara, meniru bunyi-bunyi. Duduknya tak lagi oleng, kaki-kakinya mulai melangkah. Awalnya ia berpegangan, setelah merasa seimbang ia coba melangkahkan kakinya. Ketia ia merasa betul-betul seimbang, ia mencoba melepas pegangannya. Ups! Jatuh.. Tak masalah. Ia coba lagi meraih tepian boksnya untuk berpegangan, melepas tangan dan melangkah. Satu langkah sukses! Usahanya memang luar biasa. Ada bayi yang mulai berjalan di usia 10 bulan, dan tak sedikit yang bisa berjalan tepat di ulang tahunnya yang pertama.
Tangannya yang montok semakin pintar memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia bisa menjumput benda-benda kecil. Geliginya terus tumbuh, membuatnya ingin menggigit apa saja. Berikan finger food untuk digigit-gigit.
Bermain bagi anak usia ini berarti praktek ketrampilan baru, mencari hubungan sebab-akibat, dan belajar cara kerja benda-benda.

Permainan dan mainan tepat:
  • Menjatuhkan dan melempar mainan dari dalam boksnya berkali-kali. Ia ingin tahu bunyi benda yang ia jatuhkan.
  • Bermain ciluk masih disukai anak usia ini, namun dengan cara baru: tutup wajah Anda dengan sapu tangan, biarkan si kecil membukanya sambil Anda berkata, "ba!" Permainan ini membuat bayi Anda belajar memprediksi apa yang terjadi bila sapu tangan dibuka.
  • Letakkan mainan si kecil di balik selimut, kemudian biarkan ia membukanya dan menemukan mainannya.
  • Sinar lampu senter akan membuat si kecil penasaran. Nyalankan lampu senter, arahkan pada dinding dan lantai. Si kecil akan mengejar dan menyentuhnya.
  • Bermain tepuk tangan adalah permainan yang membuat si kecil melatih koordinasi. Ajak dia bertepuk tangan.
  • Sepakbola bisa dilakukan buah hati Anda. Sediakan bola kain, topang badan si kecil, ajarkan ia menendang bola.

Tips sukses:
  1. Sediakan alat bermain berbagai ukuran, bentuk dan tekstur serta tak mudah rusak bila dibanting atau dipukul-pukul. Ketika melakukan aktivitas tersebut merupakan bagian dari belajar, yaitu memperoleh ketrampilan yang harus ia capai.
  2. Bila anak mulai berjalan, berikan alat bermain yang bisa ia dorong-dorong untuk melancarkan ketrampilannya berjalan.
  3. Jangan lupakan membaca, ngobrol dan menyanyi bersama anak.

Usia 12-16 bulan

Dia bukan bayi lagi, melainkan toddler! Ia semakin mahir makan sendiri, dan celotehannya kian bertambah. Ia bisa mengucapkan 20 kata, meski kata yang ia kenal lebih dari itu.
Dunianya adalah tempat yang menyenangkan karena tangan dan kakinya bebas bergerak. Saat ia berjalan dan dilihatnya benda yang menarik, segera ia sambar. Si kecil sangat sibuk. Orang tua anak usia ini jadi sering berkata 'jangan'.
Pertumbuhan fisik anak memang melambat tapi ketrampilannya melesat. Saat ini adalah waktunya bereksplorasi, bereksperimen dan meneliti apa saja untuk membuatnya paham apa saja. Itu sebabnya, benda apapun bisa menjadi mainannya. Yang dibutuhkan si kecil adalah kehadiran Anda, inspirasi dan bimbingan lembut Anda bila segala sesuatu tidak pada tempatnya.

Permainan dan mainan yang tepat:
  • Bermain pura-pura merupakan permainan favoritnya. Telepon mainan, makanan dari karet atau plastik dan boneka meningkatkan kemampuan bicara dan bermain imajinatif.
  • Menyusun balok, mulai dilakukan anak. Ia bisa manyusun dua balok. Permainan ini melatih koordinasi tangan-matanya.
  • Ia senang mendorong-dorong kursi, dan akan menarik kursinya bia ia menabrak sesuatu. Permainan tarik-dorong, memperkuat keseimbangan dan koordinasi tubuhnya.
  • Puzzle tiga keping dengan kenop agar mudah ditarik dan dipasang, membantu anak belajar sebab akibat.
  • Alat musik mainan seperti drum sangat disukai si kecil karena berbunyi bila dipukul. Makin berisik, ia kian suka.
  • Tunjuk hidung si kecil sambil menyebut, "ini hidung". Arahkan tangan si kecil ke mata Anda, kemudian katakan, "ini mataku."

Tips sukses:
  1. Agar Anda tak sering-sering bilang "jangan", singkirkan pajangan yang mudah rusak dari jangkauan anak.
  2. Lapangkan area bermain anak, karena tempat sempit tidak membantu anak mengembangkan kemampuan spesialnya.
  3. Jadilah teman bermain yang asyik.

Sumber: Majalah Ayahbunda

Corat-Coret: Awal Keterampilan Menggambar dan Mewarnai











Awalnya, cara anak memegang alat corat-coret masih kasar, sehingga corat-coretnya masih berbentuk garis-garis tak beraturan. Namun, makin lama akan makin bagus dengan seringya ia melakukan aktivitas ini, yang berarti pula caranya memegang alat makin baik. Itu sebabnya kegiatan ini amat membantu perkembangan motorik halusnya, yang nanti dibutuhkan untuk menggambar, mewarnai, menulis, dan lainnya.

Aktivitas corat-coret juga merupakan kreativitas alamiah yang ada pada tiap anak dan menjadi media buatnya mengekspresikan diri, baik pikiran maupun perasaan. Bila ia sedang marah, misal, tentu coretan- coretannya akan berbeda bila ia lagi senang. Manfaat lain, anak belajar mengenal aneka warna dan merasa senang bisa ber"karya".


CORAT-CORET TEMBOK

Kita harus melarangnya bila kegiatan ini dilakukan tak pada tempatnya, karena anak harus tahu tempat-tempat tertentu yang mesti dijaga dan dirawat dengan baik, juga tak merugikan atau mengganggu orang lain. Caranya beri pengertian, "Adek tak boleh mencoret-coret tembok karena tembok ini sudah bersih. Kalau Adek coret-coret, temboknya jadi kotor dan susah dibersihkan." Lalu berikan alternatifnya, "Nih, Bunda sediakan kertas-kertas, Adek bebas sepuas-puasnya coret-coret di sini."

Bila ia kembali melakukannya, katakan dengan lembut, "Bunda kan sudah bilang jangan coret-coret di tembok. Tapi kenapa Adek masih melakukannya juga? Bunda jadi sedih. Lain kali coret-coretnya di kertas ya. Kan Bunda sudah siapin kertasnya." Anak memang tak bisa diharapkan langsung berubah hanya dengan satu kali diberi pengertian, melainkan harus terus berulang-ulang.

Solusi lain, anak dibolehkan mencoret tembok di bidang tertentu saja yang sudah disepakati bersama. Sarana ini memberi kesempatan anak bereksperimen dengan bebas. Namun bila ia mencoret di tembok lain, suruh ia membersihkannya agar ia tahu mana yang boleh dan tak boleh tapi tetap dapat bereksperimen dan berekplorasi.

Namun jangan sekali-kali menghukumnya secara fisik seperti dipukul. Selain membuatnya merasa sakit secara fisik, juga ia tak tahu apa yang harus dilakukannya karena hukuman belum memberi tahu tentang perilaku apa yang baik. Dengan kita mengatakannya "Tak boleh!" saja, sebenarnya sudah hukuman bagi anak. Sebab ia melihat orangtuanya tidak senang, sementara setiap anak selalu ingin ada hubungan kasih sayang dengan orangtua. Sebaliknya, bila orangtua memberi pujian, anak pun akan senang karena terpancar dari raut muka ibunya yang juga senang.


SARANA DAN PRASARANA

Antara lain kertas gambar, papan tulis, kapur warna, pensil warna, krayon, dan lainnya. Untuk batita, alat corat-coretnya yang tepat adalah krayon, pilih yang ukurannya besar dan tebal agar ia lebih mudah memegangnya.

Sarana dan prasarana ini juga penting untuk memunculkan keingingan corat-coret pada si anak. Jika anak belum pernah melihat sarana dan prasarananya, maka keinginan untuk corat-coret belum timbul.

Bila ia gemar corat-coret tembok, tempelkan kertas-kertas berukuran besar di tembok atau sediakan papan tulis (white board) di suatu pojok/ruang tertentu. Dengan begitu, ia merasa punya privasi bahwa pojok ini miliknya dan ia boleh melakukan apapun yang disenanginya tanpa harus corat-coret di tembok.

Sumber:

Nakita: Mainan dan Permainan, , halaman 49, PT Sarana Kinasih Satya Sejati, Jakarta, 2001.

Orangtua adalah Kunci Membuat Anak Kreatif


KOMPAS.com - Betapa berbedanya permainan anak zaman sekarang dengan permainan anak zaman dulu. Jika dulu alam masih merupakan sumber daya yang sangat luas, sekarang sudah tidak lagi. Anak-anak zaman dulu bisa bersenang-senang hanya dengan “berbekal” potongan kayu dan kulit jeruk Bali. Zaman sekarang? Bisa jadi anak-anak bingung jika disodorkan permainan seperti itu. Namun, jangan buru-buru menyalahkan siapa pun, karena menurut penelitian, kekurangan gairah untuk berkreasi pada anak justru disebabkan oleh para orangtua.

Kebanyakan anak membawa sikap dan sifat yang mereka pelajari dari lingkungan, secara spesifik, orangtuanya. Sayangnya, menurut literatur yang disebutkan oleh situs MSN, sebanyak 61 persen orangtua bergantung pada sekolah, televisi, dan permainan komputer untuk perkembangan kreatif anak-anaknya. Padahal, menurut presenter acara seni anak SMart, dari stasiun CBBC, Kirsten O’Brien, “Peran orangtua sangat penting untuk mendukung proses berpikir kreatif dan imajinatif anak-anaknya. Kita perlu membantu para orangtua untuk bisa bermain dan menginspirasi energi kreatif anak. Anak-anak pun akan selalu mengingat pengalaman berbagi mainan dengan orangtuanya itu.”

Paul Geraghty, pengarang cerita anak The Hunter and Dinosaur in Danger mengatakan, "Kreativitas adalah bagian penting dalam perkembangan setiap anak. Sama seperti matematika dan bahasa, kreativitas perlu latihan dan dukungan. Kreativitas membawa kepuasan seumur hidup jika didorong sejak dini dan dilatih sepanjang masa kanak-kanak.”

Sayangnya, dalam penelitian yang sama ditemukan pula alasan para orangtua mengapa mereka tidak meluangkan waktu untuk berkreasi dengan anak-anaknya. Alasan yang dilontarkan antara lain adalah karena para orangtua tidak punya kemampuan kreatif atau karena tak punya waktu luang.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa membaca buku bersama adalah kegiatan orangtua-anak yang paling digemari. Artinya, sebenarnya tidak sulit membuat anak merasa senang dan nyaman. Selain itu, Anda juga bisa mencoba untuk menyelesaikanpuzzle bersama, membuat kreasi seni, atau membuat hastakarya dari situs-situs arts and crafts untuk anak-anak yang bisa ditemukan dengan mudah di internet.

sumber: www.kompas.com

Jemari Terampil



Menempel, mengelupas, dan main puzzle mengasah kemampuan grafomotor anak.

Kemampuan menulis sangat menunjang kegiatan belajar si kecil di sekolah. Lewat tangan mungilnya ia mengerjakan aneka tugas. Memang di usia 2-3 tahun ini anak belum bisa menulis. Kemampuan motorik halus atau grafomotornya baru dalam tahap menciptakan coretan-coretan. Meski begitu, bukan berarti Anda tak perlu melatih kemampuan grafomotornya. Lewat latihan yang tepat, anak semakin terampil.

•Corat – Coret
Anak belajar cara benar memegang krayon untuk menulis. Mencoretkan krayon menjadi suatu bentuk tertentu mengajarkan si kecil berkonsentrasi karena dia harus menuangkan pikirannya ke atas kergas. Jangan lupa tanyakan pada anak tentang karya yang dibuatnya dan puji dia. Selain itu, kegiatan corat-coret ini melatih kekuatan jari tangan karena si kecil harus menggenggam krayon cukup kuat agar bisa meninggalkan jejak goresan di kertas
Bantuan anda : Jangan paksa anak untuk menulis huruf. Biarkan dia mencoret-corekt sesuka hati. Beri si kecil krayon yang nyaman dia pegang dan biarkan ia mencoret-coret di atas kertas atau buku gambarnya. Ajak si kecil melakukan kegiatan ini di mejanya. Anak tak cepat lelah dan akan terbiasa menggambar atau menulis di meja dengan posisi yang benar.

•Finger Paint
Si Kecil bisa menggunakan salah satu jari atau semua jarinya untuk menciptakan berbagai kreasi bentuk. Lewat melukis dengan jari, anak melatih fleksibilitas jemarinya untuk bergerak leluasa di atas kertas. Biarkan ia menyalurkan kreativitasnya dengan mencoba melukis menggunakan warna-warna yang disukainya. Selain mengenal berbagai warna, kepercayaan diri anak pun tumbuh
Bantuan anda : Pastikan menggunakan cat yang aman. Anda juga harus siap baju si kecil kotor, maka sebaiknya siapkan pakaian yang memang Anda korbankan untuk kegiatan finger paint ini. Jangan lupa alasi lantai sekitar kegiatan anak agar terlindung dari cat yang tercecer.

•Menempel
Ada dua kegiatan menempel, yaitu menempelkan stiker ke buku stiker atau menempelkan kertas dengan lem. Bila menggunakan lem Anda bisa meminta anak menempelkan kertas yang diberi lem ke kertas atau menempelkan kedua buah kertas yang diberi lem menjadi satu. Minta anak mengoleskan lem ke kertas yang sebelumnya sudah Anda contohkan.
Bantuan anda : Sediakan stiker dengan gambar yang menarik. Anda juga bisa mengajak anak membentuk pizza dengan menempelkan stiker warna-warni ke dalam lingkaran cokelat, seakan-akan mengisi pizza dengan sayur dan daging. Pastikan anda memilih lem yang aman untuk anak-anak

•Mengelupas
Kegiatan ini memperkuat kemampuan grafomotor anak karena melatih otot-otot motorik halus. Si kecil fokus menggunakan jari jemarinya untuk melepaskan stiker yang menempel. Aktivitas ini menyenangkan karena stiker bisa dikelupas ditempelkan lagi dan dikelupas lagi.
Bantuan Anda : Jika si kecil menemui kesulitas, Anda kelupas dahulu sedikit di ujung stiker dan biarkan ia melanjutkan. Kegiatan ini lebih menyenangkan dengan mencoba menempelkan stiker di bagian tubuh anak, seperti tangan, perut, lutut, dan telapak kakinya. Selain belajar mengelupas, ia sekaligus belajar mengenal anggota tubuhnya. Pilih stiker yang ukurannya cukup besar, tak sulit dikelupas dan tidak lengket setelah dikelupas.

•Bermain puzzle
Kegiatan ini bisa membantu melatih kemampuan menulis anak karena lewat puzzle anak diminta mengenali obyek, menyeleksi obyek dari kiri ke kanan, fokus melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Bermain puzzle juga meningkatkan rentang konsentrasi dan koordinasi mata-tangan si kecil.
Bantuan Anda : Awalnya berikan si kecil puzzle yang disertai kenop sehingga memudahkannya memegang kepingan puzzle. Mulai dengan kepingan yang jumlahnya kurang dari 10 keping dengan gambar sederhana dan ukuran keping puzzle cukup besar. Pilih puzzle yang menyertakan gambar yang sudah terangkai sebagai panduan.

Jika Tak Terampil
Si 2 tahun seharusnya sudah dapat menguasai ketrampilan motorik tertentu, semisal melompat di tempat, menendang bola, memanjat furnitur, menggenggam krayon, mencoret-coret, membuka tutup stoples. Pada kenyataannya ada anak-anak yang ketrampilan motoriknya jauh di bawah rata-rata anak seusianya. Ketidakterampilan ini juga muncul pada perilakunya yang serba ceroboh (clumsy).

Ada beberapa penyebab clumsy antara lain fisik lambat matang, bentuk tubuh terlalu kurus atau gemuk sehingga menghambat kelincahan menguasai ketrampilan yang diperlukan, ada ketegangan emosional yang mempengaruhi koordinasi otot, ada kerusakan kecil di otak dan tidak ada kesempatan berlatih.
J

ika penyebabnya kurang latihan motorik, ibu bisa membimbing si kecil melakukan aktivitas yang bisa mengaktifkan otot-otot tubuhnya. Untuk melatih otot motorik kasar, ajak anak melompat atau berlari. Sedangkan untuk mengasah otot motorik halus, ajak si kecil meremas dan membentuk lilin mainan, belajar menggunting, atau makan sendiri dengan sendok khusus anak.

Ayah Bunda November 2009